SANG PEDANG ALLAH
Ia adalah nama
yang membuat musuh gemetar sebelum perang dimulai.
Khalid bin Walid r.a.
PANGLIMA yang tak pernah mengenal kata mundur.
Pedangnya terangkat di Uhud, Mu’ta, Yarmuk,
dan puluhan medan jihad lainnya.
Setiap langkah hidupnya
adalah derap kuda dan denting besi.
Namun ketika usia menua,
ketika rambut memutih,
dan tubuh tak lagi sekuat dulu…
Allah menulis akhir yang berbeda.
Bukan di medan perang.
Bukan di bawah hujan panah.
Bukan pula dengan pedang terhunus.
Di sebuah rumah sederhana di Homs, Syam,
Khalid terbaring lemah.
Napasnya berat.
Matanya menatap langit-langit seakan melihat kembali
semua peperangan yang pernah ia lalui.
Ia memanggil sahabat-sahabatnya mendekat.
Dengan suara yang nyaris habis, ia berkata:
“Aku telah mengikuti lebih dari seratus pertempuran.
Demi Allah, tidak ada satu jengkal pun di tubuhku
kecuali terdapat bekas luka
karena pedang, tombak, atau anak panah.”
Tangannya gemetar
saat ia menunjukkan luka-luka itu.
Lalu ia terdiam lama…
sunyi menyelimuti ruangan.
Dengan mata basah, ia melanjutkan:
“Namun lihatlah aku hari ini…
Aku mati di atas ranjang,
seperti unta tua yang kehabisan tenaga.”
Bukan keluhan.
Bukan penyesalan.
Itu adalah rindu seorang pejuang pada syahid
yang belum Allah izinkan.
Namun Khalid tak pernah meragukan Rabb-nya.
Dengan sisa tenaga, ia berpesan:
“Jangan kalian sangka
bahwa jihad di jalan Allah
akan mengurangi umur seseorang.”
Pesan terakhir dari seorang panglima
kepada generasi setelahnya.
Dan ketika ruh itu perlahan terangkat…
Pedang Allah pun kembali kepada Pemilik-Nya.
Tak ada debu perang.
Tak ada darah mengalir.
Hanya ketenangan.
Dan nama besar yang ditulis langit.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar